Semoga gue gak geli bahasnya dan yang baca juga.
Pertama sekali gue ada trauma pernikahan, melihat lebih banyak buruk dan kejamnya hubungan pernikahan orang-orang disekitar gue.
Kami menikah tahun 2022 disaat bulan ke 7 pernikahan, kami mencoba untuk USG Transvaginal dan hasilnya rahim gue cantik tidak ada masalah apapun semuanya normal. Cuma gue pulang dari klinik tersebut dengan sakit hati karena ucapan dokter perempuan itu.
- "Kalian udah berapa bulan menikah memangnya?"
- "Kenapa kalian buru-buru banget sih?"
- "Ini aja dimasukin alat ke kelamin, kamu masih kesakitan."
- "Lebih besar punya suamimu kan? dibanding alat ini, yakan mas?"
Vaginismus adalah kondisi medis ketika otot-otot di sekitar vagina mengencang atau berkontraksi secara tidak sadar saat terjadi upaya penetrasi
Ya kami tidak berhasil penetrasi, gue kesakitan dengan rasanya pedih kebakar, kami frustasi, sebelum kami akhirnya melakukan pemeriksaan USG Transvaginal tersebut. Gue mencari tau lebih banyak soal ini di Internet dan gue menemukan informasi yang sangat banyak tentang Vaginismus oleh dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG. Gue menjelaskan sangat detail dan beliau bilang gue ada Vaginismus. Namun kehalang biaya, gue mencari informasi lebih dalam dari banyak sumber dan kami memilih untuk dilatasi mandiri. Kami memulainya dari 1 jari hingga 5 jari, dengan proses 5 bulan.
Bulan pertama rasanya 1 jari itu sangatlah sakit, gue sampai harus menarik rambut sendiri untuk nahannya supaya bisa masuk dulu. Gue sampe gigit kain karena gue beneran teriakkk kesakitann, ketika 1 jari Santo dicoba dimasukin ke Vagina gue. Berhari-hari dengan keadaan mental yang jelas sangatlah terganggu. Masa kelam yang menyakitkan, gue harus memulihkan diri supaya balik untuk dilatasi mandiri. Akhirnya bisa masuk 2 jari hingga 5 jari dengan proses yang sangat-sangatlah tidaklah mudah.
Proses 5 bulan untuk dilatasi mandiri akhirnya bisa masuk 5 jari tanpa rasa sakit ataupun pedih ketusuk. Akhirnya kami mencoba kembali penetrasi dengan bantuan gel pelumas (durex). Fokus kami benar bukan untuk memiliki anak di tahun pertama pernikahan kami. [IMO] Gue gak tau sih, apakah ini efek dari vagina gue yang robek karena disunat? makanya gue gak bisa penetrasi :(
Tapi disisi lain Vaginismus memang penyebab utama gagalnya senggama dan sangat membahayakan jika gue belum menyelesaikan Vaginismus ini, namun gue langsung hamil. Sebenarnya kami tidak ada niat untuk SENGAJA MENUNDA memiliki anak. Murni karena ketakutan beban ekonomi dan masa kecil kami yang serba kekurangan yang membuat kami sama-sama berpikir untuk mengusahakan hidup yang layak lebih dahulu.
Perjuangan Santo juga dengan tidak konsumsi gula tambahan dan makan nasi sekenyangnya tanpa nambah porsi, sejak menikah hingga sekarang. Terbukti dari wajahnya sudah tidak ada lagi jerawat yang muncul, lipatan leher yg hitam juga tidak ada, dan badannya jadi padat. Santo juga mulai angkat beban dirumah 2026 dan minum jus sayur tiap bulan. Namun masih merokok ya.
Tahun ke dua pernikahan adalah tahun dimana kami akhirnya bisa merasakan rasanya senggama. Meski sebulan cuma 4-5x tapi ini pencapaian terbesar kami. Masuk tahun ke tiga dan keempat masih dengan 4-5x sebulan tapi rasanya sangat lelah karena kesibukan kami masing-masing. Masuk tahun ke lima pernikahan yaitu 2026 tepatnya bulan Juni, akhirnya kami memutuskan untuk fokus 'bikin anak' dengan memperhatikan dan memperhitungkan jadwal senggama. Masih sama, kami melakukannya 4-5x namun kami memulainya dimulai dari:
- H-4 hari sebelum tgl ovulasi
- H-1 hari sebelum tgl ovulasi
- H+1 hari setelah tgl ovulasi
- H+3 hari setelah tgl ovulasi
- bonus mau kapan aja (asal bukan H-7 tgl haid)
- Setiap 1x sebulan minum jus (tomat, timun, wortel, nanas) blender. Seratnya dimakan.
- 2 labu hijau kukus selama 2x dalam seminggu. 5 hari lainnya bebas sayur apa.
- Vitamin C, D3+K2, Asam Folat, E, Omega3 yg diminum tiap hari tapi gantian.
- Ayam, Ikan, Daging
- Pepaya, Semangka (yg belinya di abang2 potong pinggir jalan)
Dan kami menunggu...
Comments
Post a Comment